#navbar-iframe { display: none !important; } Blog Kang Cepot: Lampu Dengan Energi Bakteri

Wednesday, 1 February 2012

Lampu Dengan Energi Bakteri


Lampu Dengan Energi Bakteri
Pengembangan teknologi yang berkelanjutan memunculkan ide-ide yang inovatif. Dikutip dari CNN, perusahaan elektronik asal belanda, Philips saat ini tengah mengembangkan konsep lampu bio, yaitu lampu yang menggunakan bakteri sebagai sumber pencahayaan alami. Konsep lampu bio ini memanfaatkakn cahaya yang dihasilkan oleh organisme yang bisa menghasilkan cahaya seperti yang bisa dihasilkan oleh kunang-kunang. Bentuk lampu bio ini seperti toples yang diletakkan di frame yang terbuat dari besi. Toples-toples tersebut berisi bakteri yang pada waktu makan gas metana mengeluarkan cahaya hijau. Sebuah tabung silikon disalurkan oleh toples-toples ini ke limbah pencernaan rumah tangga.
Proyek ini merupakan bagian dari proyek Philips yang menginginkan integritasi siklus ekosistem dalam rumah tangga, dimana sampah didaur ulang untuk menghadapi isu keberlanjutan. Menurut direktur senior desain dan inovasi Philips, Clive van Herden, perancang memiliki kewajiban untuk mencari solusi teknologi dengan menggunakan energi sesedikit mungkin dan tanpa polusi. Tak hanya sebagai penerangan, pengembangan konsep tersebut bisa dikembangkan untuk indikator diagnostik tingkat polusi atau bahkan sebagai biosensor untuk monitoring penyakit seperti diabetes. Tetapi, Philips mengatakan cahaya lampu bio akan lebih cocok untuk lampu hiasan daripada untuk pencahayaan fungsional. Philips berangan-angan, ke depan aplikasi lampu bio, mungkin menggunakan tanaman yang bisa mengeluarkan sinar, sehingga bisa digunakan untuk menerangitepi jalan.
Pengembangan teknologi yang berkelanjutan memunculkan ide-ide yang inovatif. Dikutip dari CNN, perusahaan elektronik asal belanda, Philips saat ini tengah mengembangkan konsep lampu bio, yaitu lampu yang menggunakan bakteri sebagai sumber pencahayaan alami. Konsep lampu bio ini memanfaatkakn cahaya yang dihasilkan oleh organisme yang bisa menghasilkan cahaya seperti yang bisa dihasilkan oleh kunang-kunang. Bentuk lampu bio ini seperti toples yang diletakkan di frame yang terbuat dari besi. Toples-toples tersebut berisi bakteri yang pada waktu makan gas metana mengeluarkan cahaya hijau. Sebuah tabung silikon disalurkan oleh toples-toples ini ke limbah pencernaan rumah tangga.
Proyek ini merupakan bagian dari proyek Philips yang menginginkan integritasi siklus ekosistem dalam rumah tangga, dimana sampah didaur ulang untuk menghadapi isu keberlanjutan. Menurut direktur senior desain dan inovasi Philips, Clive van Herden, perancang memiliki kewajiban untuk mencari solusi teknologi dengan menggunakan energi sesedikit mungkin dan tanpa polusi. Tak hanya sebagai penerangan, pengembangan konsep tersebut bisa dikembangkan untuk indikator diagnostik tingkat polusi atau bahkan sebagai biosensor untuk monitoring penyakit seperti diabetes. Tetapi, Philips mengatakan cahaya lampu bio akan lebih cocok untuk lampu hiasan daripada untuk pencahayaan fungsional. Philips berangan-angan, ke depan aplikasi lampu bio, mungkin menggunakan tanaman yang bisa mengeluarkan sinar, sehingga bisa digunakan untuk menerangitepi jalan.

No comments:

Post a Comment