#navbar-iframe { display: none !important; } Blog Kang Cepot: Info Pertanian
Showing posts with label Info Pertanian. Show all posts
Showing posts with label Info Pertanian. Show all posts

Saturday, 28 January 2012

Pupuk Organik Dari Sampah Kota

Debit sampah di kota besar semacam Jakarta bisa mencapai 8500 ton per hari.  Persentase terbesar dari jumlah sampah tersebut adalah sampah organik yang potensial untuk dikembangkan sebagai pupuk.  BPTP DKI Jakarta telah menghasilkan kajian dalam pemanfaatan limbah dengan metode pengomposan, formula pupuk organik padat dalam bentuk pelet dan granul ("HPS Granular/HPS Pelet'), dan pupuk organik cair "HPS-1" (Harapan Petani Sejahtera).

Teknologi pengomposan sampah organik pasar yang telah teruji paling sesuai untuk jenis sampah tersebut (kandungan air sangat tinggi) adalah melalui pengaturan sistem drainase melalui kemiringan bidang pengomposan sebesar 15o serta pembuatan alur-alur pembuangan lindi pada bidang sejajar kemiringan bidang. Selain itu melalui pengaturan sistem aerasi menggunakan bambu atau paralon yang dilubangi pada sisi-sisinya dan ditanam di dalam tumpukan bahan kompos; serta perlakuan inokulasi menggunakan mikroba eksogenous.  Karakteristik kimia kompos yang dihasilkan, diantaranya, C organik 13%, N-total 3,53%, P-total 0,53%, K-total 4,44%, Ca 5,80%, Mg 1,34%, C/N ratio 10 setelah 14 hari waktu pengomposan.

Komposisi formula pupuk organik padat dalam bentuk pelet dan granul berbahan baku kompos sampah kota (Pupuk HPS Granular/HPS Pelet) yang dikembangkan meliputi tepung kompos sampah kota 75% (b/b), Batuan Fosfat 10% (b/b), Arang Sekam 10% (b/b), Zeolit 5% (b/b), serta kultur campuran penambat N-bebas dan pelarut fosfat dengan kerapatan minimal 106 sel.g-1 bahan pupuk.  Formulasi pupuk HPS-1 meliputi ekstrak sampah sayur dan buah 70% (v/v) dan Molase 30% (v/v) yang difermentasi secara anaerobik selama 14 hari menggunakan kultur campuran Lactobacillus sp.  Hasil fermentasi sebanyak 80% (v/v) diperkaya hasil fermentasi batuan fosfat 20% (v/v) dan kultur campuran pelarut fosfat (Pseudomonas sp.) dan penambat N bebas (Azozpirilium sp.), masing-masing dengan kerapatan 106-109 sel.ml-1.

Pada beberapa komoditas tanaman sayuran (terong, kacang panjang, sawi, selada, bayam, dan kangkung serta jagung manis)  pupuk HPS Granul, HPS Pelet, maupun HPS-1 (cair) memiliki nilai efektivitas agronomis nisbih (RAE) berkisar 60-87% dibandingkan pupuk kimia NPK (Teknologi Petani).  Berdasarkan nilai RAE tersebut, maka pupuk HPS tersebut secara umum layak untuk digunakan sebagai pupuk alternatif pengganti pupuk kimia dalam sistem pertanian organik tanpa pupuk mineral/kimia atau dapat juga dikombinasikan dengan pupuk kimia guna meningkatkan efektivitas dan efisiensi pupuk kimia dalam sistem pertanian konvensional.

Teknologi pembuatan pupuk dari sampah tersebut telah didiseminasikan pada semua wilayah di DKI Jakarta, baik melalui forum yang difasilitasi oleh Dinas Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta dan Suku Dinas Pertanian di lima wilayah kota, maupun melalui media dan kegiatan diseminasi BPTP Jakarta (media cetak, audio visual, gelar dan temu teknologi, serta pertemuan rutin dengan Kelompok Tani dan Gabungan Kelompok Tani).  

Hingga saat ini, Teknologi pengomposan pupuk dari sampah kota telah diadopsi oleh Kelompok Tani Adenium Jaya, Jagakarsa, Jakarta Selatan.  Sementara itu, teknologi pembuatan pupuk cair (HPS-1) telah diadopsi oleh Kelompok Tani Nusa Indah, Jakarta Selatan.  

Penerapan pembuatan pupuk organik padat dan cair sedang diinisiasi untuk diterapkan di Kelompok Tani Primatara dan Kelompok Peternak di Wilayah Mampang Prapatan, Jakarta selatan.  Selain itu, tercatat beberapa kelompok masyarakat dan kelompok tani telah menelusuri lebih lanjut informasi teknologi yang dikembangkan guna ditindaklanjuti dalam penerapan di lapang.
Sumber: http://www.litbang.deptan.go.id 
Selanjutnya >>

Bolu dan Brownies dari Bunga Bangkai


Kue bolu, brownies, cheese stick dan onde biasanya terbuat dari tepung terigu. Namun, kali ini semua jenis makanan tersebut bisa dibuat dari umbi Suweg (Amorphophallus paeoniifolius) yang masih kerabat dari bunga bangkai (Amorphophallus titanium). Dan rasanya pun tidak jauh berbeda dengan kue dari bahan tepung terigu biasa. Hanya terkesan lebih kenyal dan pekat dengan warna cenderung lebih butek.

Salah seorang peneliti Yuzammi mengatakan, selama ini orang hanya suweg (Amorphophallus paeoniifolius) adalah bunga bangkai dengan bau yang menyengat saat mekar. Namun di balik itu sebenarnya umbi suweg serta bunga bangkai jenis lainnya menyimpan potensi sebagai bahan pangan.

Menurut Yuzammi sampai sejauh ini, belum semua umbi bunga bangkai diteliti aman dan tidaknya potensi bahan pangan yang ada. Hanya saja, berdasarkan penelitian bersama tim, umbi suweg (Amorphophallus paeoniifolius) berpotensi untuk mencegah beberapa penyakit degeneratif seperti jantung koroner. Selain itu juga bisa menekan peningkatan gula darah sehingga cocok untuk penderita diabetes mellitus. Umbi suweg (Amorphophallus paeoniifolius) berdasarkan penelitian bisa menurunkan kolesterol dalam darah dan mampu mengikat kolesterol setara dengan obat instan.

Penelitian Yuzammi bersama timnya juga membuktikan jika kandungan gizi dan karbohidrat pada suweg tidak kalah dibandingkan dengan tepung lainnya. Hanya saja di lihat dari segi warna tepung suweg agak butek dan tidak putih bersih.
Selanjutnya >>

Friday, 27 January 2012

Kulit Manggis Alternatif Pewarna Makanan

Salah satu alternatif pewarna yang potensial namun belum banyak termanfaatkan zat warna antosianin. Antosianin adalah merupakan pigmen yang dapat memberikan warna biru, ungu, violet, merah, magenta, dan orange pada tanaman seperti buah, sayuran, bunga, daun, akar, umbi, legume, dan sereal. Pigmen ini bersifat larut dalam air dan dapat digunakan sebagai pewarna alami pada pangan. Selain itu, beberapa hasil penelitian menyebutkan bahwa antosianin mempunyai aktivitas biologis seperti antioksidan, antiinflamasi, antikarsinogenik, antidiabetik, neuroprotektif.

Antosianin juga dapat mengurangi risiko penyakit jantung koroner melalui aktifitas vasoprotektif, penghambatan agregasi platelet dan oksidasi LDL. Karena banyaknya manfaat, dan terlebih fungsinya yang sangat potensial sebagai pewarna alami yang aman bagi manusia, seharusnya antosianin ini bisa lebih dimanfaatkan untuk mengganti tren pewarna makanan sintetis saat ini.

Salah satu hal yang menarik dari antosianin adalah sumbernya yang ternyata sangat melimpah, dan banyak diantaranya yang unik dan menguntungkan untuk dimanfaatkan. Apa contohnya? Ternyata, sampah organik seperti kulit buah manggis mengandung senyawa antosianin yang cukup melimpah dan sangat mungkin untuk dimanfaatkan sebagai pewarna alami. Kulit buah manggis (Garcinia mangostana), memang sudah terbukti sebagai penghasil zat warna alami. Pigmen antosianin yang terkandung dalam kulit buah manggis merupakan antosianin dan jenis cyaniding-3-sophoroside, dan cyaniding-3-glucoside.

Bila dilihat dari keekonomiannya, pemanfaatan buah manggis sebagai bahan baku pewarna alami terlihat sangat prospektif. Produksi manggis Indonesia pada tahun 2007 mencapai 112.722 ton tetapi hanya sekitar 5.697 ton dari jumlah total produksi sekitar 72.634 ton yang dapat di ekspor (Anonim, 2008). Sisanya didalam negeri dengan harga yang jauh lebih murah. Hal ini dikarenakan buah manggis memiliki grade yang rendah karena cacat atau undersize (Anonim, 2008). Melihat jumlah buah manggis undergrade yang mencapai 66.937 ton atau sebanyak 92 persen dari total produksi manggis, maka sangatlah disayangkan jika buah manggis tersebut tidak diolah lebih lanjut agar memiliki nilai tambah dengan harga jual yang lebih tinggi.

Saat ini, penggunaan antosianin sebagai pewarna semakin meluas, tidak hanya sebagai pewarna wine tetapi juga sebagai pewarna soft drink, selai, jeli, produk confectionary maupun frozen food (Anonim, 2008). Selain itu tren masyarakat yang lebih memilih back to nature ataupun healty lifestyle turut mendukung terjadinya peningkatan permintaan pasar akan antosianin sebagai pewarna makanan alami.

Melihat hal ini, peluang untuk memasarkan produk pewarna alami ini semakin terbuka lebar dan dapat berkembang menjadi semakin besar sebagai bisnis yang menjanjikan. Diharapkan industri  antosianin dari buah manggis ini bisa menyerap banyak tenaga kerja aktif dari kalangan masyarakat menengah  ke bawah. Disamping itu, kenyataan bahwa masih ada potensi lain, seperti contohnya kulit buah rambutan yang ternyata bisa bersanding melengkapi buah manggis menjadi sebuah harapan baru akan berkembangnya industri pewarna alami Indonesia. Diharapkan solusi transformasi tren pewarna makanan di negara ini menjadi awal baru bagi Indonesia yang lebih sehat dan juga bisa turut menyelesaikan permasalahan perekonomian yang bisa menjadi merupakan akar dari fenomena pewarna sintetik Negara ini.

Sumber: Harian Umum Pikiran Rakyat

Selanjutnya >>